Desa Nainggolan Ditetapkan Sebagai Percontohan di Samosir

>> Jumat, 12 Agustus 2011

Pangururan, 28/7 (ANTARA) – Government Samosir regency, North Sumatra, setting in District Nainggolan Nainggolan Village as a pilot villages based on assessment of the implementation of village governance, education, health and level of agency participation SKPD supporters in the region.
"To see firsthand the situation of pilot villages in the outskirts of Lake Toba, the monitoring team PKK of North Sumatra province has conducted a review into the local area," said Head of Public Relations Pemkab Samosir, Gomgom Pangururan Naibaho in Samosir regency capital city on Thursday.
During a visit to the village in question, Chairman of the monitoring team PKK of North Sumatra Province, Ny. Bidasari mentioned, the activities they carry out in the context of empowering people's lives and improve the economy of the local residents.
"We hope, so that villagers can maintain togetherness Nainggolan to bring something to build and improve their own welfare," said Bidasari.On occasion, the Regent Samosir Samosir represented by Assistant Government Setdakab Ombang Siboro emphasized, so that people still maintain the culture of mutual aid in everyday life.
"With the worked together, something that will feel lighter weight to do," said Ombang.
According to him, the stipulation Village Ninggolan become a pilot, is a good opportunity as well as a challenge that must be faced by all communities in the region.
He hoped that the cooperation that has existed in the community is maintained and continues to grow with carrying out the things that has nurtured the team during this PKK Samosir regency.
As an innovative tourist destination by 2015, he continued, people in the area should be able to become an example for other villages, especially in terms of maintaining sustainability and environmental hygiene.
Because, he said, Samosir regency building should start from the village who is spearheading the development.
"The participation of every community to help the government build a village is needed, and as a form of seriousness Samosir regency since 2011, the entire village has had its own office," said Ombang.



Sumber: antarasumut.com

Read more...

ATURAN ADAT ISTIADAT BATAK


(Ruhut–ruhut Paradaton)
Patokan dan aturan adat adalah acuan atau cerminan untuk melaksanakan adat didalam sukacita maupun dukacita yang pelaksanaannya harus didasarkan pada falsafah “ DALIHAN NATOLU “ serta memperhatikan nasihat nenek moyang ( Poda Ni Ompunta)
* Jolo diseat hata asa diseat raut ( di bicarakan sebelum dilaksanakan)
* Sidapot solup do na ro (mengikuti adat suhut setempat)
* Aek Godang tu aek laut, dos ni roha nasaut (Musyawarah mufakat ).
Pasal 1
1. Pada acara pesta perkawinan yang mutlak (mortohonan) suhi ni ampang ñaopat :
a. Pihak paranak (pengantin lelaki) yang terima ulos :
1. Ulos Pansamot : Orang tua pengantin
2. Ulos Paramaan : Abang / adik Orangtua Pengantin
3. Ulos Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin
4. Ulos Sihunti Ampang : Saudara (Ito) atau Namboru Pengantin
b. Pihak Parboru (pengantin perempuan) yang terima sinamot :
1. Sijalo Bara / Paramai : Abang / adik pengantin
2. Sijalo Upa Tulang : Tulang pengantin
3. Sijalo Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin atau
Simandokhon Ito pengantin *(sesuai Hasuhuton&Tonggo Raja).
4. Sijalo Upa Pariban : Kakak atau Namboru Pengantin
c. Urutan Pelaksanaan:
1. Ulos Hela diberikan setelah Ulos Pansamot.
2. Sijalo Paramai diberikan setelah sinamot nagok diterima Suhut Parboru.
2. Pada acara Adat Perkawinan yang harus diperhatikan :
a. Tintin marangkup diberikan kepada Tulang Pengantin pria, bila perkawinan dengan
Pariban Kandung (Boru Tulang), tidak ada Tintin Marangkup.
b. Jumlah Tintin Marangkup, sesuai kesepakatan demikian Panandaion bila ada.
c. Ulos yang diturunkan (tambahan) tidak boleh melebihi tanggungan Parboro.
d. Uang Pinggan Panungpunan, disesuaikan dengan besarnya Sinamot.
e. Undangan pada acara adat Boru Sihombing atau Bere Sihombing, suhu – suhu Ompu yang menerima Sinamot / Tintin Marangkup / Upa Tulang , wajib memberikan ulos Herbang, selain yang memberi ulos Herbang, boleh memberi uang (pembeli ulos).
Pasal 2
Pada Acara Adat Kematian (meniggal dunia), ulos yang berjalan dan acara sesuai tingkat kematian :
1. Meninggalnya dari usia anak-anak sampai usia berkeluarga :
a. Anak-anak dan Boru Sihombing remaja : Lampin atau Saput dari orangtua.
b. Remaja / Pemuda Sihombing : Saput dari Tulang-nya.
c. Kembali dari makan tidak ada acara adat lagi.
2. Meninggal Suami / Isteri :
a. Tingkat kematian ditetapkan dalam Parrapoton / Tonggo Raja.
b. Ulos Saput / Tutup Batang Suami dari Tulang-nya, Ulos Tujung/ Sampetua Istri dari Hula – hula.
c. Ulos Saput / Tutup Batang Istri dari Hula – hula, Ulos Tujung/ Sampetua Suami dari Tulangnya.
d. Urutan pelaksanaan : Saput lebih dulu baruTujung (berubah sesuai kondisi).
e. Tingkat kematian Sarimatua, kembali dari makam ada Acara Buka Tujung, bagi yang masih menerima Tujung.
f. Tingkat kematian Saurmatua, kembali dari makam ada Acara Buka Hombung.
g. Suami meninggal, Tulang-nya Siungkap Hombung; Istri meninggal, Hula-hulanya.
Pasal 3
Parjambaran
Pada setiap Acara Adat Pesta Perkawinan dan kematian berjalan Parjambaran, pada
dasarnya sebelum pelaksanaan harus dibicarakan lebih dahulu :
1. PARJAMBARAN DI ACARA ADAT PESTA PERKAWINAN, PANJUHUTI-NYA PINAHAN / SIGAGAT DUHUT.
a. Mengkawinkan anak laki – laki :
- Bila adatnya alap jual : Parjambaran Sidapot Solup na Ro
- Bila adatnya Taruhon Jual :
Osang utuh diparanak, untuk diberikan kepada hula-hula (Sijalo Tintin Marangkup), ihur-ihur (Upa Suhut) diparanak dan diberikan Ulak Tando Parboru,
Somba – somba dan soit dibagi dua dan parngingian (kiri) di Paranak :
(1). Somba – somba untuk Horong Hula-hula dan Tulang Rorobot.
(2). Soit untuk Horong Dongan Tubu, Pariban, Ale-ale, Dongan Sahuta, dll.
(3). Parngingian / Parsanggulan untuk Boru / Bere.
(4). Ikan (dengke) dari Parboru untuk Hasuhuton.
b. Mengawinkan anak Perempuan :
- Bila adatnya Taruhon Jual : Parjambaran Sidapot Solup na Ro.
- Bila adatnya Taruhon Jual :
Osang Utuh di Parboru untuk diberikan ke Hula-hula dan Tulang Rorobot.
Ihur – ihur (Upa Suhut) di Parboru untuk Hasuhuton
Somba – somba dan Soit dibagi dua dan parngingian(kanan) di Parboru :
(1). Somba –somba untuk Horong Hula-hula dan Tulang Rorobot.
(2). Soit untuk Horong Dongan Tubu, Pariban, Ale – ale, Dongan Sahuta, dll.
(3). Parsanggulan / Parngingian untuk Boru / Bere.
2. PARJAMBARAN DI ACARA KEMATIAN SARI / SAURMATUA, BOAN SIGAGAT DUHUT (Contoh) :
Ulaon : Borsak Simonggur.
Hasuhuton : Hutagurgur.
Bona ni Hasuhutin : Tuan Hinalang.
Suhut Bolon : Datu Parulas.
A. DONGASABUTUHA
1. Panambuli : Anggi Doli Hariara.
2. Pangalapa / Pamultak : Raung Nabolon.
3. Panambak / Sasap : Dongan Tobu.
4. Ihur – ihur / Upa Suhut : Datu Parulas.
5. Uluna / Sipitudai : Jambar Raja (Parsadaan dan Punguan)
Orang biasanya diberikan ke Protokol dan Sitoho-toho.
6. Ungkapan : Haha Doli Suhut Bolon.
7. Gonting : Anggi Doli Suhut Bolon.
B. BORU / BERE / IBEBERE
1 . Tanggalan Rungkung Partogi : Boru ni Prsadaan.
2. Tanggalan Rungkung Mangihut : Boru ni Punguan.
3. Tanggalan Rungkung Bona – bona : Boru Diampuan/Bere – Ibebere.
C. HULA – HULA
1. Tulan Bona : Pangalapan Boru/Hula-hula Tangkas.
2. Tulan Tombuk : Namamupus/Tulang.
3. Somba – somba Siranga : Tulang Rorobot, Bona Tulang, Bona Hula.
Somba – somba Nagok :Bona na ari.
4. Tulan :Parsiat (Hula-hula, Haha Anggi, & Anak Manjae)
D. DONGAN SAHUTA / RAJA NARO.
1. Botohon : Sipukkha Huta/Dongan Sahuta.
2. Ronsangan : Pemerintah setempat.
3. Soit Nagodang : Paariban, Ale-ale, Pangula ni Huria, Partungkoan.
4. Bonian Tondi : Pangalualuan ni Nipi (teman curhat).
5. Sitoho-toho : Surung-surung ni namanggohi adat (orang yang sering
datang).
6. Pohu : Penggenapi isi tandok Hula-hula
7. Sohe/Tanggo : Penggenapi jambar yang belum dapat, dan lain-lain.
3. PENJELASAN BENTUK DAN LETAK PARJAMBARAN
A. NAMARMIAK-MIAK (PINAHAN LOBU)
1. Osang-osang : rahang bawah
2. Parngingian : kepala bagian atas
3. Haliang : leher
4. Somba-somba : rusuk
5. Soit : persendian
6. Ihur-ihur/Upa Suhut : bagian belakang sampai ekor
Parjambaran Namarmiak – miak di Humbang
(Oleh : Ompu Natasya L. Toruan )

Na marmiak-miak
B. SIGAGAT DUHUT
1. Uluna/Sipitu dai : kepala atas dan bawah (tanduk
namarngingi dan osang)
2. Panamboli : potongan leher (sambolan)
3. Pangalapa/Pultahan : perut bagian bawah (tempat belah)
4. Panambak/Sasap : pangkal paha depan
5. Ungkapan : pangkal rusuk depan
6. Gonting : pinggul/punggul
7. Upa Suhut / Ihur-ihur : bagian belakang sampai ekor
8. Tanggalan Rungkung : leher (depan sampai dengan badan)
9. Tulan Bona : paha belakang
10. Tulan Tombuk : pangkal paha belakang
11. Somaba-somba Siranga : rusuk-rusuk besar
12. Somaba-somba Nagok : rusuk paling depan (gelapang)
13. Tulan : kaki di bawah dengkul
14. Botohon : paha depan
15. Ronsangan : tulang dada ( pertemuan rusuk)
16. Soit Nagodang : persendian
17. Bonian Tondi : pangkal rusuk iga
18. Sitoho-toho : sebagian dari osang bawah
19. Pohu : bagian-bagian kecil
20. Sohe/Tanggo-tanggo : cincangan
Parjambaran Sigagat Duhut di Humbang
( Oleh Drs. Togap L. Toruan)
Si gagat duhut
Pasal 4
MANGADATI
Mangadati adalah pelaksanaan ”menerima.membayar” adat perkawinan (marunjuk) yang telah menerima pemberkatan nikah sebelumnya, dimana kedua belah pihak orangtua sepakat, adatnya dilaksanakan kemudian dan atau kawin lari (mangalua) dimana acara ini dilaksanakan pihak pengantin laki-laki ( Paranak). Karena itu ”mangadati” tidak sama dan bukanlah manjalo sulang-sulang ni pohompu.
A. Tahapan yang harus dipenuhi sebelum Mangadati :
1. Pada acara partangiangan (pengucapan syukur) pemberkatan nikah, Paranak wajib mengantar ”Ihur-ihur” kepada pihak pengantin perempuan (Parboru) sebagai bukti bahwa putrinya telah di-paraja (dijadikan istri).
2. Pihak paranak melakukan acara manuruk-nuruk (suruk-suruk) meminta maaf dengan membawa makanan adat kepada pihak Parboru(hula-hula).
3. Pihak Paranak melakukan pemberitahuan rencana ”mangadati” kepada pihak Parboru, dengan membawa makan adat. Acara ini merancang (mangarangrangi) ”Somba ni uhum: (sinamot), ulos herbang, dan yang berkaitan dengan mangadati.
B. Acara ”mangadati” dilaksanakan di tempat pihak Paranak, sehinga pelaksanaan sama dengan pesta adat ”taruhon jual”, yakni pihak Parboru datang dalam rombongan membawa beras, ikan, dan ulos.
C. Parjambaran: ”Sidapotsolup do naro”

Pasal 5
MENDAMPINGI, MANGAMAI, MANGAIN
Pengertian umum adalah suatu proses untuk perkawinan campuran antara anaka / boru dengan anak/boru suku/bangsa lain (Marga Sileban), dimana pelaksanaanya dilakukan sesuai dengan adat Batak. Penerapannya dilakukan sesuai tahapan dan aturan masing-masing sebagai berikut :
MENDAMPINGI. Marga Sileban yang berkehendak agar anaknya (pria/wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak/boru Batak, Marga Sileban cukup meminta kepada satu keluarga Sihombing yang mau mendampingi dengan fungsi sebagai wakil/juru bicara/Raja parhata, dengan demikian :
1. Mendampingi Parboru, Sijalo Sinabot harus Marga Sileban, yang mendampingi hanya menerima uang kehormatan saja.
2. Mendampingi Paranak, Sijalo Ulos Suhi ni Ampang Naopat harus keluarga suku lain (Marga Sileban), yang mendampingi hanya menerima Ulos Pargomgom.
3. Yang mendampingi tidak boleh melakukan Tonggo / Ria Raja dan Papungu Tumpak.
MANGAMAI . Marga Sileban yang berkehendak agar anaknya (pria/wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak/boru Batak. Marga Sileban harus datang secara adat, membawa makanan na marmiak-miak, memohon kepada keluarga Sihombing yang mau Mangamai dihadapan Dongan Tubu, Boru/Bere, Dongan Sahuta.
Dengan restu hadirin, yang Mangamai mangupa dengan menyatakan kesediaan untuk melaksanakan tahapan adat perkawinan yang dimaksud pihak Marga Sileban, kemudian Marga Sileban memberikan Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada semua hadirin. Sehingga yang diamai dengan yang Mengamai sudah menjadi Dongan Sahundulan yang sifatnya permanen.
Dalam hal Mangamai Paranak, yang menerima ulos diatur sebagai berikut :
Ulos Pansamot : Orangtua kandung Marga Sileban.
Ulos Paramaan : Yang Mangamai.
Ulos Todoan : Marga Sileban atau keluaga yang Mengamai.
Ulos Sihunti Ampang : Boru yang Mengamau atau Marga Sileban.
Ulos seterusnya diatur pembagiannya sesuai dengan kesepakatan.
Tintin Marangkup tetap harus diberikan ke Tulang pengantin pria Marga Sileban.
Dalam hal Mangamai Parboru, yang menerima Sinamot/tuhor diatur sebagai berikut :
Sinamot nagok : Orangtua kandung Marga Sileban.
Paramai : yang Mengamai.
Todoan : Marga Sileban atau yang Mengamai.
Pariban : Boru yang Mengamai atau Boru Marga Sileban.
Upa Tulang harus diberikan kepada Tulang pengantin wanita Marga Sileban.
Panandaion/Sipalas roha diatur pembagiaanya sesuai kesepakatan.
MANGAIN. Marga Sileban yang berkehendak anaknya (wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak(pria) Batak. Marga Sileban harus datang secara adat, membawa makanan namarmiak-miak, memohon kepada keluarga Sihombing yang mau Mangain dihadapan Dongan Tubu,Boru/bere, Hula-hula/Tulang, Dongan Sahuta.
Tahapan Pelaksanaan:
1. Marga Sileban atau pendampinganya menyerahkan tudu-tudu sipanganon.
2. Marga Sileban menyerahkan putrinya kepada yang Mangain.
3. Yang Mangain, marmeme dan manghopol dengan Ulos Mangain.
4. Hula – hula yang Mangain (Tulangna) memberikan ulos parompa.
5. Marsipanganon.
6. Hata Sigabe-gabe.
Yang Mangain akan menempatkan yang diain pada urutan anggota keluarga yang tidak mengubah Panggoran (buha baju) yang sudah ada. Selanjutnya, keluarga yang Mangain bertanggung jawab melaksanakan kewajiban adat Batak kepada yang diain. Pada acara perkawinan yang diain, yang menerima Sinamot Nagok dan Suhi ni Ampang Naopat adalah yang Mangain dan keluarga. Orangtua kandung marga Sileban menerima Sinamot(panandaion) sebagai penghargaan atau penghormatan.
Pada dasarnya kedudukan Anak atau Boru yang Didampingi, Diamai, Diain, tidak sama, dan tidak punya kaitan apapun dengan ”pewarisan”. Masing masing hanya terbatas pada proses adat yang dilakukan.
Pasal 6
MANGANGKAT /MANGADOPSI
Suatu proses seorang anak (pria atau wanita) masuk dalam keluarga menjadi anak/boru, baik karena belum mempunyai keturunan maupun karena suatu hal.
1. Meminta persetujuan Haha/Anggi dan Ito, serta Hulua-hula(sekandung).
2. Mengurus kelengkapan dari catatan sipil.
3. Mengurus babtisan dari gereja.
4. Melakukan pengukuhan secara adat dihadapan :
- Dongan Tubu
- Hula – hula dan Tulang
- Boru / Bere
- Dongan Sahuta
- Raja Bius (Parsadaan dan Punguan)
5. Untuk acara pengukuhan Boru (putri) oleh namarmiak-miak, tetapi untuk pengukuhan anak (putra) sebaiknya sigagat duhut, karena kehadirannya. Selain pewaris juga akan menjadi penerus keturunan.
Tahapan pelaksanaan :
1. Penjelasan tentang tata cara.
2. Pasahat tudu-tudu sipanganon
3. Hula-hula dan Tulang mangupa / marmeme dan memberi Ulos Parompa
4. Marsipanganon
5. Yang Mangangkat menyerahkan Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada semua undangan (Upa Raja Natinonggo).
6. Pasahat Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada hadirin.
7. Hata Sigabe-gabe.
Pasal 7
ULOS HERBANG
Ulaos Herbang untuk diberikan ke pihak Paranak pada acara perkawinan Boru Sihombing banyaknya 17 (tujuh belas) lembar, bila ada tambahan/titilan Paranak, tidak boleh lebih dari yang disediakan Sihombing dan Ulos Herbang yang akan diterima pada acara perkawinan anak (putra) Sihombing Banyaknya tidak dibatasi. Dalam menentukan banyaknya Ulos Herbang, hendaknya tetap memperhitungkan waktu penyerahan.
Pasal 8
CATATAN/PERHATIAN
1. Pada setiap acara adat pesta perkawinan dan kematian yang berhak menerima dan memberikan adat aníllala anggota yang sudah diadati (beradat).
2. Pada kejadian dukacita (mate) di mana statusnya Sarimatua atau Saurmatua, bila bonannya Sigagat Duhut, tidak boleh lagi dijalankan teken tes.
3. Acara Patua Hata dan Pargusipon, dapat dilaksanakan oleh tingkat Suhu Ompu, tetapi Acara Tonggo Raja/Rai Raja harus sampai tingkat Borsak Sirumonggur.
4. Pesta adat (unjuk) yang oleh karena keterbatasan, hendaknya tetap ulaon Borsak Sirumonggur, karena hanya menambah lebih 5 (lima) undangan. Misalnya mengundang paling sedikit seorang dari masing-masing : Haha Doli Hutagurgur, Anggi Doli Hariara, Raja parhata, Pengurus Parsadaan Borsak Sirumonggur.
Pasal 9
PENUTUP
1. Patokan dan aturan adat ini dalam penerapannya tidak boleh menjadi beban pikiran dan menimbulkan kerugian Suhut Bolon.
2. Hal-hal yang berjalan di luar Patokan dan Aturan adat ini,harus dicatat menjadi dokumen Pengurus Pusat dan dilaporkan tertulis ke Dewan Pembina.
3. Patokan dan Aturan adat yang Belum tertuang, akan ditetapkan oleh Pengurus Pusat, setelah disetujui oleh Dewan Pembina.
Disempurnakan
Dan ditetapkan : di Jakarta
Pada tanggal : 23 September 2002
DEWAN PEMBINA
BORSAK SIRUMONGGUR
JAKARTA & SEKITARNYA
Ketua Sekretaris
TTD TTD
St. Drs. Togap Lumbantoruan Drs. Ronald Marudin Sihombing
Disalin sesuai dengan aslinya, 12 Juni 2005
Sekretaris Jenderal Parsadaan Borsak Sirumonggur
P.L. Toruan


Dari: indopersada.blog.com



Read more...

Animal Park Pematang Siantar

>> Rabu, 31 Maret 2010

Welcome
Animal Park Pematang Siantar (THPS) is one of tourism object in North Sumatra as a place of entertainment a decent, affordable and educating for various circles, has hundreds of species of animals originating from within and abroad are also equipped with facilities to play. Renovation and development inaugurated by the President of the Republic of Indonesia, Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono on November 13, 2007.


History
THPS opened to the public on November 27, 1936 with a total area of 4.5 hectares which was founded by Dr. Coonrad, as well as a leader first and is the fourth oldest animal park in Indonesia after Singapore, Bukit Tinggi and Bangdung.

In June 1965 the museum was founded by Prof. Zoological. Dr. FJ Nainggolan the diresmikian by Ibu Rahmi Hatta (Mrs. Vice President). Given that the THPS conditions no longer meet the expectations of society, like a little animal condition and not maintained as well have been very worrying situation, since September 1, 1996, THPS previously managed by Pemko Pematang Siantar, taken over by a National Entrepreneur Environmental Lovers local son DR. H. Rahmat Shah for 30 (thirty) years.

Role and Functions Zoos & Wildlife Parks
Conservation:
* For Ex-situ conservation institutions (for menangkar endangered species outside of its habitat) and an animal rescue tarakhir fort.
* Saving the animals that are endangered because of habitat destruction.
* Maintain genetic purity.
* Place of rare animals care of state-owned

Education:
* As a means of knowledge of educational science and technology education.
* Gave the education and knowledge to the wider community about the importance of nature and environmental conservation through a demonstration of animal performances.
* To instill the love of wildlife and nature from an early age to students sekola and various other societies, through the introduction of wildlife and the environment.
* Fulfilling their training on the conservation of natural resources in a sustainable manner to the public throughout the corners of Indonesia.

Research Research dn:
* Support research for various disciplines of Veterinary Medicine, biology, Animal Husbandry & Tourism from various levels of education.
* Support research, conservation experts from national and international conservation organizations.

Recreation:
* Entertainment feasible and affordable for people and as healthy recreation and education for various circles.
* And the role of other functions that benefit our country.

ANIMAL PARK Pematang Siantar
Capt. road. M.H Sitorus No. 10 Pematang Siantar 21115th
North Sumatra


source: brochure
from site gobatak.com

Read more...

Some hotels are located on the island of Samosir - North Sumatra

>> Senin, 29 Maret 2010

  1. Toledo Inn : Jl. Lingkar Tuktuk siadong, Samosir, Danau Toba. Telepon (0625) 41181, 41174.
  2. Tabo Hotel : Jl. Lingkar Tuktuk Siadong, Samosir, Danau Toba. Telepon (0625) 11111.
  3. Samosir Cottages : Jl. Lingkar Tuktuk Siadong, Samosir, Danau Toba. Telepon (0625) 41050.
  4. Ring Abudabi : Jl. Lingkar Luar Tuktuk siadong, Samosir, Danau Toba. Telepon (0625) 60000.
  5. Linda's Acc : Jl. lingkar Tuktuk siadong, Samosir, Danau Toba. Telepon (0625) 451223.
  6. Hotel Silintong : Jl. Lingkar Tuktuk Siadong, Samosir, Danau Toba. Telepon (0625) 451242.
  7. Elsina Acc : Jl. Lingkar Tuktuk Saidong, Samosir, Danau Toba. Telepon (0625) 451067.
  8. Bagus Bay : Jl. Lingkar Tuktuk Siadong, Samosir, Danau Toba. Telepon (0625) 451287.
  9. Duma Sari Hotel : Jl. Lingkar Tuktuk Siadong, Samosir, Danau Toba. Telepon (0625) 45000.
(from:VISIT SAMOSIR LAKETOBA)

Read more...


Parsidangan stone, was in the village Siallagan is arranged in such a stone during the reign of King Siallagan to prosecute and execute the criminals.(pemkab samosir)

Read more...

Geographic Map Samosir District




Samosir is a potential area that provides a variety of beautiful scenery
(map from samosirkab.go.id)

Read more...

Introducing Some Pemkab Samosir Tourism Object To Investors in PRSU

Pavilion Pemkab Samosir, introduce a number of tourist attraction to many visitors and also to a number of Middle Eastern investors who visit PRSU (North Sumatra Fair) to 39 at Jalan Gatot Subroto, Medan. Visitors and investors are very interested in the number of existing attractions in the area of the island of Samosir. So is the origin of a single rod panaluan.
These comments were made Vishwanathan Siregar Pamkab Pavilion officers in Samosir PRSU, Thursday (25 / 3) told reporters.
The area attractions are introduced he said, among other things, Simanindo area, Tuktuk Tomok, Pusuk Buhit, Sitio-tio, Ronggur Nihuta, Onan bronze Nainggolan, Palipi, Pangururan and Daily. "Tourism Simanindo there are 7 locations that can be visited, namely: Goa Pogu, museums Huta Bolon, Marhosa Stone (stone natural phenomena such as breathing), Cave Marlakkop, Aek Natonang, Pulo Tao, and Stone Parsidangan. There Tuktuk Tomok in 3 locations namely: the arts building, the tomb of the king Sidabutar, Bukit Beta. Tourism Pusuk Buhit have 4 locations, namely Stone Hobon, Aek Sipitudai, Batak Village, and Buhit Mulajadi Nabolon Pusuk. Then region-Tio there Sitio 3 locations, namely: Datu spring Parngongo, Goa and Baths Parngongo Datu Saruding Boru, "he said.
He also explained, Ronggur Nihuta tourist sites, namely: Sidihoni Lake (a lake on Samosir Island) Aek Liang. Then there was the bronze Onan Lagundi Sitamiang tourist sites, the Free Beach Sukkean, Hariara Na Bolon. Then Beach Mary King (Nainggolan), and there are attractions in Stone Chain Palipi, Piso Somalim, and hot water Simbolon. "Regions is Daily Tele View Tower, Sampuran Ephratah Waterfall, Pokki Tree Fountain. In a tours Pangururan hot water bath, canal ponggol Tano, persanggahan, a statue of liberty, open stage, community Batak ulos weaving, stone dam and Sidam-white sand, "he said.
He said, Samosir Pemkab Pavilion also introduces a number of Batak house miniature accessories, ulos, sticks and panaluan stump lainnnya crops. "Many people ask the meaning of this panaluan sticks. According to legend Batak, sticks made after Panaluan Tunggul Ajibonda Hatautan and Tapinauasan Boru, the other twin breed Sindak Teachers Tatautaan and incest Panaluan do when they grow older. Afraid to go home to their parents' house, and Ajibonda Hatautaan Boru Tapinausaan choose to live in trees in the forest. But unfortunately two of them actually stuck in a tree and together with the shaman and the animal exerted by Guru Hatautan to release her son and daughter to stay with them. Hatautaan teachers finally get good wood to make a long stick from the tree trunk. Sticks was later given the name sticks Tunggul Panaluan, "he explained.
Sticks Panaluan addition, he said, other sites associated with many of Batak culture is also found on the island of Samosir. "So Sigale-Gale and others. Samosir Pemkab hope, through this PRSU many investors come to Naidoo that can advance the public economy Naidoo, "he hoped.

Medan(Sib)

Read more...

  © copyright@alfret siallagan. Skyblue Tamplates by Ourblogtemplates.com. Didukung oleh blogger